Kasih Tak Sampai
Oleh : Dalam Perjalanan Pulang
Ada yang berubah dari wajah Vira, senyum yang biasanya selalu menghiasi wajah manisnya malam itu sirna, diganti dengan sorot mata pilu sembab oleh air mata yang mungkin sudah puluhan kali tersapu oleh sekaan punggung tangannya.
Vira, gadis 24 tahun, putri seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri, sudah hampir dua tahun sang ayah berpulang akibat serangan jantung. Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa yang masih shock dengan kepergian suaminya yang tiba-tiba di pertengahan Ramadhan sesaat setelah menunaikan shalat dhuhur. Vira tinggal bersama ibu dan seorang kakak laki-lakinya, sedangkan 2 kakaknya yang lain sudah berkeluarga dan bertugas di daerah. Sebagai anak bungsu dan perempuan satu-satunya, tidak otomatis menjadikan Vira seorang yang manja dan egois, bahkan sebaliknya ia sangat lembut, rendah hati dan penuh perhatian.
Senin itu selepas makan siang, pertemuan dengan Hery sosok yang sangat ia kagumi, cerdas, berkepribadian matang menyisakan kepedihan yang tergambar jelas di wajah Vira.
Bakso soto Mbak Sri makanan kegemaran Vira belum disentuh sejak sore, ia berbaring menatap langit-langit kamar, terbayang kembali kejadian siang tadi.
"kita tidak mungkin bersama, Vir....aku memang sayang sama kamu, tapi aku tidak bisa,.... kita berbeda....aku mau kamu lihat semuanya, lihat realitanya..." ucapan hery terasa mengiris perih....."cuma jarak aja kan? aku bisa pindah ikut kamu....." sahut Vira tak mengerti dengan alasan Hery.
Sesekali ia menyeka bulir-bulir bening yang mengalir dari sudut matanya.
"Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan.......maafkan aku......aku tidak pernah meminta perasaan ini hadir, ia datang begitu saja.....sebuah perasaan cinta yang tulus tanpa memerlukan balasan.....cinta putih tanpa pamrih bahkan hitungan sejumlah materi.......pernah kucoba untuk mengenyahkannya dari hatiku, tapi ku tak mampu.........tidak.......tidak akan kubiarkan rasa ini pergi, ia begitu manis........akan kusimpan dan kusirami selalu seperti gerimis pagi yang memberikan kesegaran di kelopak mawar biru yang kau tanam di jiwa ini...
Mengapa kamu diam? apakah itu hukuman bagiku karena cintaku ini.........jika iya......teruslah diam......hukumlah aku......tapi ijinkan aku tetap mencintaimu hingga nanti tiba waktuku untuk pulang...........
Bahagiamu adalah bahagiaku...
Senyum-mu adalah kerinduanku....
Selamat berbahagia pujaanku....
Senyum-mu adalah kerinduanku....
Selamat berbahagia pujaanku....
Salam Cintaku"


Komentar
Posting Komentar